BENGKULU – Lonjakan harga tiket pesawat rute Bengkulu–Jakarta yang mencapai Rp5,6 juta akhirnya terjawab. Kenaikan ini dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya adalah naiknya harga bahan bakar pesawat atau Avtur.
General Manager Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, Muhammad Haekal, menjelaskan bahwa harga Avtur mengalami kenaikan cukup signifikan. Jika sebelumnya sekitar Rp15 ribu per liter, kini naik menjadi lebih dari Rp23 ribu per liter.
“Kenaikan harga Avtur menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, ada juga faktor momentum atau tingginya permintaan,” kata Haekal, Rabu 8 April 2026.
Kenaikan harga bahan bakar ini berdampak langsung pada operasional maskapai. Biaya yang meningkat membuat maskapai harus menyesuaikan harga tiket agar tetap menutup biaya operasional.
Namun, Haekal menegaskan bahwa lonjakan hingga Rp5,6 juta hanya terjadi pada kelas bisnis. Sementara itu, tiket kelas ekonomi mengalami kenaikan yang relatif lebih kecil.
Meski begitu, kenaikan pada kelas ekonomi tetap terasa. Harga tiket yang sebelumnya berada di kisaran Rp1,2 juta kini naik menjadi Rp1,4 juta hingga Rp1,5 juta.
Selain faktor bahan bakar, tingginya permintaan juga menjadi penyebab utama. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah penumpang meningkat tajam, sehingga harga tiket ikut terdorong naik.
Hal ini terlihat dari kondisi penerbangan di Bandara Fatmawati Soekarno. Untuk jadwal keberangkatan 9 April, tiket di semua maskapai dilaporkan sudah habis terjual.
Situasi ini menunjukkan adanya lonjakan permintaan yang cukup tinggi. Dalam kondisi seperti ini, maskapai biasanya menerapkan sistem harga dinamis atau dynamic pricing.
Artinya, semakin tinggi permintaan, maka harga tiket juga akan semakin mahal. Sistem ini memang umum digunakan dalam industri penerbangan.
Di sisi lain, faktor momentum juga berperan. Biasanya, menjelang waktu-waktu tertentu seperti libur atau kegiatan penting, harga tiket cenderung naik karena banyak orang bepergian.
Asisten II Pemprov Bengkulu, RA Denni, menyebut bahwa pemerintah daerah telah berupaya mengingatkan maskapai agar tidak menaikkan harga terlalu tinggi.
“Kami sudah menyampaikan imbauan agar harga tidak terlalu tinggi. Tapi kewenangan pengaturan harga ada di pusat, bukan di daerah,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tiket pesawat tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Kombinasi antara biaya operasional dan permintaan pasar menjadi penyebab utama.
Masyarakat diharapkan dapat memahami situasi ini, meski di sisi lain tetap berharap ada kebijakan yang bisa menstabilkan harga tiket.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius








