BENGKULU TENGAH – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Tengah memperkuat upaya menjaga kawasan pesisir dengan menanam 1.000 bibit mangrove dan melepas 100 anak penyu atau tukik. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem pantai sekaligus mengurangi ancaman abrasi yang terus mengintai wilayah pesisir.
Kegiatan tersebut digelar dalam peringatan Hari Mangrove Sedunia ke-11 di Balai Konservasi Penyu Alun Utara, Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Selasa (28/7/2026). Aksi itu juga menjadi bagian dari Gerakan Indonesia Asri yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur pemerintah daerah, Forkopimda, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Bengkulu, PT Bio Nusantara Teknologi, PT Pelindo Bengkulu, pemerintah desa, hingga komunitas peduli lingkungan.
Bupati Bengkulu Tengah Rachmat Riyanto menegaskan, penanaman mangrove tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurut dia, mangrove memiliki fungsi strategis sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi, gelombang besar, hingga dampak perubahan iklim.
“Hari Mangrove Sedunia harus menjadi momentum meningkatkan kesadaran bersama. Apa yang kita tanam hari ini mungkin terlihat kecil, tetapi manfaatnya akan sangat besar untuk melindungi wilayah pesisir dan generasi mendatang,” kata Rachmat.
Ia menilai keberhasilan pelestarian lingkungan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat agar mangrove yang telah ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang.
“Kita harus bersama-sama merawat mangrove yang telah ditanam. Dengan begitu, alam Bengkulu Tengah tetap terjaga dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain fokus pada kawasan pesisir, Pemkab Bengkulu Tengah juga memperluas program penghijauan ke lingkungan permukiman. Dalam kesempatan tersebut, Rachmat mengumumkan pembagian bibit tanaman secara gratis melalui kerja sama dengan BPDAS Bengkulu.
Program ini diperuntukkan bagi masyarakat yang memiliki KTP Bengkulu Tengah. Warga dapat mengajukan bibit pohon buah maupun tanaman kayu, seperti alpukat dan mangga, tanpa dipungut biaya.
“Penghijauan tidak hanya dilakukan di kawasan pantai, tetapi juga di pekarangan dan kebun masyarakat. Bibit tersedia gratis bagi warga Bengkulu Tengah,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bengkulu Tengah, Faisal, menjelaskan kegiatan penanaman mangrove tersebut merupakan bagian dari target nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam memperluas kawasan hijau di wilayah pesisir.
Sebanyak 1.000 bibit mangrove telah disiapkan dalam program ini. Pada tahap awal, sebanyak 250 bibit telah ditanam, sedangkan sisanya akan ditanam secara bertahap dengan melibatkan komunitas lingkungan, BPDAS, serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurut Faisal, pola penanaman bertahap dipilih agar proses pemeliharaan lebih optimal sehingga tingkat keberhasilan hidup mangrove dapat meningkat.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan tingkat keberhasilan hidup mangrove sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat pesisir,” ujar Faisal.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pelepasan 100 ekor tukik berusia sekitar 25 hari ke habitat alaminya. Pelepasan satwa yang dilindungi tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memperkuat upaya konservasi ekosistem laut di pesisir Bengkulu Tengah.
Melalui gerakan ini, Pemkab Bengkulu Tengah ingin memastikan upaya pelestarian lingkungan tidak berhenti pada penanaman semata, tetapi berlanjut pada perawatan dan pengawasan bersama sehingga kawasan pesisir tetap lestari bagi generasi yang akan datang.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius








